Kamis, 07 Januari 2010

Jules Verne "Si Pencipta Fiksi Ilmiah"


Jauh sebelum orang bisa terbang di udara, jangankan di antariksa, banyak penulis yang sangat imajinatif telah memikirkan bagaimana agar cara tersebut dapat dilakukan. Jules Verne telah membuat ide- idenya yang liar itu seolah- olah bisa dilaksanakan.
Dia anak seorang pengacara. Dia menghentikan sekolahnya dalam bidang hukum karena berkeinginan untuk menulis, mula- mula teater. Kemudian dia menulis serangkaian kisah petualangan fantastis yang dimulai dengan Lima Minggu dalam Sebuah Balon pada tahun 1863. Buku berikutnya yang ia tulis adalah Perjalanan Menuju Pusat Bumi. Buku ini sangat populer di kalangan masyarakatsemua umur bahkan telah difilmkan(Bagus banget!! Wajib nonton nih.......!! Apalagi yang terbaru Journey to the Center of The Earth 3D!!! Wow. It’s wonderful!!). Kisah- kisah dalam buku yang ditulis oleh Jules Verne ini sangat menarik dengan latar belakang temapt- tempat yang luar biasa seperti di bawah laut, di angkasa, di dalam gunung berapi. Orang- orang abad ke 19 memang sangat keranjingan sains. Verne bukanlah seorang ilmuwan, tetapi dia sangat memahami huku- hokum ilmiah. Ia melukiskan segala sesuatunya dengan cermat dan membuat kisah- kisah dalam bukunya itu sangat jelas dan nyata.
Verne mengisahkan hal- hal yang bertahun- tahun kemudian sungguh- sungguh terjadi. Seakan akan dia dapat meramal. Misalnya, From the Earth to the Moon (Dari Bumi menuju Bulan) memberikan gambaran realistik yang pertama mengenai penerbangan antariksa. Tiga orang astronot ditembakkan ke bulan dengan sebuah meriam raksasa. Verne memaklumi bahwa kecepatan yang sangat tinggi dibutuhkan sekali untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi. Ia memperkirakan kecepatan ini, yang dikenal sebagai escape velocity (kecepatan untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi), setinggi 40.000 kilometer perjam. Perkiraannya itu benar. Dalam kisahnya itu ia menggunakan sebuah meriamkarena meriamlah satu- satunya alat yang dapat meontarkan sesuatu secepat itu. Memang, penumpang akan menjadi pipih oleh hentakan percepatan setelah ditembakkan. Dengan cara yang berbeda, gambaran Verne mengenai ketiadaan bobot dan tinggal landas sangat teliti.Dalam bukunya yang berjudul From the Earth to the Moon, ia mengisahkan samapi penjelajah- penjelajah antariksa itu berada dalam orbit mengelilingi bulan. Lanjutannya, Mengelilingi Bulan, menceritakan kembalinya mereka ke bmi. Terutama lukisan mengenai pendaratan di laut sangat sama dengan yang dilakukan oleh Misi Apollo. Keseluruhan penjelajahan itu sama dengan yang dilakukan oleh misi Apollo 8 pada tahun 1968.
Setelah berbagai kisah tentang petualangan antariksa yang dia ciptakan, di lalu menulis buku sebanyak 64 buah buku. Termasuk Dua Puluh Liga di Bawah Laut, Mengelilingi Duni dalam 80 hari. Bukunya ini sudah banyak yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Jules Vere telah merintis jalan bagi para penulis fiksi ilmiah, dan telah mengilhami penemu- penemu ilmiah yang mengubah fiksi menjadi nyata.
Hebat..... hebat...... hebat......
www.google.com

Jumat, 21 Agustus 2009

Hari Bumi Diperintahkan Hancur



Selalu ada gidik roma untuk setiap nama kiamat. Huru Hara Akhir Zaman? Best seller. Produk-produk lain pun telah bernasib (mirip) sama: Dajjal dan Segitiga Bermuda, Jesus Will Return, The Day After Tomorrow, Armageddon. Isu akhir zaman merk dagang yang menjanjikan. Untuk film, untuk buku. Laris manis ditonton, dibaca, diresapi orang-orang.

Uang bukan selalu momok alasan. Saya yakin, ada sense lebih bila bicara hal ini. Dooms Day sudah diprediksi sejak dulu: era kerasulan, analisa para ilmuwan sampai peramal-peramal ilmu setan tak jelas. Headline yang (seringkali) berhasil menyedot perhatian massa dalam jumlah besar. Tentu saja. Bermain-main dengan apa yang manusia pikirkan selalu menarik: ketakutan, harapan, ingin tahu. Berdoa semoga saja kiamat masih jauh.

Semoga saja kita sudah mati sebelum itu terjadi. Kiamat: Ya, Allah, semoga masih satu abad lagi!

Aneka ria reaksi meletup, bermunculan. Macam-macam, tapi satu keyakinan: manusia tidak siap kehidupannya diganggu jeritan sangkakala. Sangkakala yang akan berbunyi begitu tiba-tiba: saat manusia-manusia berani berzina di pinggir jalan tanpa malu seperti sepasang keledai. Hidup dunia terasa sangat nyaman; bokek maupun tidak bokek--hey, kenapa bisa begitu sih? Semua orang lalu beramai-ramai melupakan kiamat bila mendengar siapapun bicara kiamat. Sangat takut. Betul kecut.

Membayangkannya saja kerut: gunung-gunung dihambur-hamburkan, langit pecah retak, bumi berguncang luar biasa richter, asap merah berembus, manusia-manusia memutus pita suara mereka dengan berteriak minta tolong--mencari perlindungan yang mungkin juga tengah berteriak mencari perlindungan. Belum lagi bicara hari kebangkitan, hari perhitungan, hari lewati jembatan rambut tujuh belahan: berpenampang neraka yang apinya berwarna-warna: merah, hitam, putih (karena telah Allah siapkan demikian lamanya).

Saya sama seperti orang-orang: takut, ngeri. Apa jadinya bila saya mengalami itu semua? Apa saya siap? Apa saya mampu? Apa saya akan selamat?!

Blep. Kosong. Saya tidak punya jawaban. Saya kasihan terhadap diri saya sendiri, dan semua orang; kita. Kita yang cuma mampu menduga-duga nasib kelak di kampung akhirat. Mungkin begini, mungkin begitu. Astaga, siapa sih yang tidak bergetar memikirkan itu semua?! Abu Bakar saja menangis. Rasul saja menangis. Kita? Hoho, ada yang terlalu angkuh untuk melakoni itu semua. Padahal tidak ada jaminan sedikitpun dari Allah, layaknya Nabi Muhammad atau assabiqunal awwalun. Ibadah sedikit, sering tidak khusyuk. Sholat bertabur riya dalam setiap ruku sujud tuma'ninahnya. Sekalinya ikhlas, dirusak dengan menceritakannya pada orang-orang; serta tidak lupa busungkan dada, berharap terlihat gagah dan sholeh/ah. Pelit sedekah, gampang marah-marah. Enggan ukir prassati kebajikan, bahkan untuk diri sendiri.

Kalau sudah demikian, jawablah dengan lantang: atas alasan yang mana kita harus masuk surga? Jangan katakan Allah tidak menciptakan neraka untuk kita. Ah, tidakkah kalian tahu jika itu mungkin saja? Mungkin, neraka memang diciptakan untuk membakar kita. Menghanguskan, mendebukan jasad kita--tulang jadi debu, darah jadi debu; habis. Disiksa air mendidih, disembelih parang besar milik malaikat berwajah garang--yang bahkan berwajah masam pada Rasulullah. Tidakkah itu menakutkan? Tidakkah itu sedikit saja membuat kita berpikir untuk menyudahi kepura-puraan kita? Bersandiwara seolah amnesia, seolah lupa nyawa kita akan berakhir di liang kuburan dan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkannya.

Mungkin, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tidak akan membawa kita terbang melewati neraka. Mungkin tidak akan cukup untuk membayar tiket ke surga. Malah, bisa saja, kebaikan itu yang menyeret kita ke bibir jurang nestapa dan melemparkan kita ke dalamnya. Skeptis memang, tapi itulah masa depan.

Akhirat masih misteri untuk seluruh makhluk hidup. Segalanya bisa saja terjadi. Penyeru-penyeru dakwah bernasib sial. Pendosa-pendosa melenggang lintasi gerbang kesyahduan; surga yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Segala tergantung Allah, Rabb penguasa alam--yang menggenggamnya dengan tiada kepayahan sezarrah saja. Yang tahu setiap hati, yang tahu setiap niat yang terbersit. Segalanya masih teka-teki. Akhir hidup kita, ujung nyawa kita. Saya kira benar dugaan saya: saya dan Anda belum tentu masuk surga. Mungkin... malah sebaliknya. Silahkan ketakutan. Silahkan menggigil sampai gila.

Hanya ada dua pilihan: surga atau neraka. Kita akan berakhir di salah satunya. Selamanya meneguk kenikmatan atau menangis sepanjang waktu, yang pedihnya tiada berujung lagi sesudah itu.

Ada baiknya mulai sekarang kita bersujud. Mengingat Allah sepenuhnya. Mohon ampun dan berazzam jadi hamba yang tawakkal. Ada baiknya kita juga saling mendoakan. Saling menyelamatkan. Atas nama cinta, atas nama kasih sayang. Sebab Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Yang memiliki ampunan dan cinta lebih besar dari angkara-Nya terhadap kezaliman. Dia menyukai orang-orang yang berbuat baik, yang menebar kebaikan. Orang-orang yang merelakan harta, jiwa, dan tenaganya guna membela dien-Nya. Orang-orang yang tahu apa itu ukhuwah dan menyemainya di hati peradaban. Bukankah risalah telah mengatakan: ridho Allah membentang pada manusia yang saling mencintai karena-Nya?

Tengadahkan tangan, dan mulailah rangkai munajat. Saat sholat, setiap ingat. Untuk saudara-saudara kita. Agar selamat dunia, agar selamat akhirat. Cepat. Jangan ditunda-tunda, sebab tak ada cukup dalih untuk menunda-nunda. Para ustadz sudah berceramah. Tanda-tanda zaman telah gamblang berkomentar: wanita lebih banyak dari pria, para gembala berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, AIDS-sindrom/penyakit yang belum pernah ditemui pada masa sebelum ini dan tiada obatnya. Saya mohon... jangan tunggu Dajjal muncul lebih cepat dan mengatakan kalau kiamat itu sudah dekat. Kiamat pasti terjadi atas kehendak Allah SWT. Dia yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.......