Minggu, 21 April 2013

UN, perlukah?

Well, udah lama banget ya nggak posting. Emang nggak pernah update ini blog. Hehe ^^
Maklum, habis perang ini. Yak, perang yang tertunda (re: belum pengumuman). Kali ini saya akan coba membahas tentang UN yang tertunda kemarin.Ada pro dan kontra ya.

Emang sih, UN kali ini agak berbeda. Oke, saya akan coba bahas perbedaan itu menurut sudut pandang saya sebagai pelajar yang sudah melampaui UN itu:
Pertama, setiap kelas beda- beda tipe.
Ya bener. Setiap kelas beda- beda tipenya. Kalau dulu cuma 5 tipe soal. Sekarang, ada 20 tipe soal. Perubahan yang amat signifikan memang. Soalnya pun bervariasi. Ada yang cuma dibolak- balik, ada juga yang tiap tipe beda soalnya.
Soalnya sih menurut saya lumayan. Yang agak susah sih matik sama bahasa indonesianya. Memang sih, itu dua mapel yang paling nggak saya kuasain. But, I think I already doing my best ^^

Kedua, LJK sama soalnya di satu lembar
Menurut saya sih, nggak efektif ya. Takutnya sobek pas di pisahin. LJKnya juga tipis. Jadi, banyak yang nggak konsen sama ngerjainnya. Karena kepikiran itu. Gimana kalau nanti pas lingkarin LJK sobek? Gimana nanti kalau barcodenya kehapus? Gimana nanti kalau pas misahin sama soalnya sobek?
Emang agak absurd sih.

Ketiga, pendistribusian yang kurang bagus
Kalau ini sih, saya alhamdulillah nggak ngalamin ya. Untungnya sekolah kami sangat displin. Jadi, nggak ada itu yang namanya naskah soal telat, jam ngaret, belum didistribusiin lah itu lah. Tapi kasian juga sih ya. Liat- liat berita di TV yang isinya Kegagalan UN 2013. Menurut saya sih, nggak gagal. Cuma manajemennya yang kurang maksimal.
Kenapa nggak disiapin dari sebulan yang lalu? Atau kenapa nggak didistribusiin seminggu sebelumnya? Ya, kacau sih emang. Kasian siswa- siswinya yang udah belajar mati- matian malemnya, tapi akhirnya pas masuk sekolah diumumin adanya penundaan UN. Mau marah, ya marah. Tapi harus gimana lagi.

Dengan adanya berita- berita itu yang sedikit lebay menurut saya. Banyak juga yang menjadikan UN sebagai kambing hitam. UN dihapus lah, nggak efektif lah, Ujian Kegagalan Negara lah. Tapi kalau saya bisa ngomong, sebenarnya UN juga sangat bermanfaat bagi siswa. Misalnya, kalau nggak ada UN emang kalian pada mau belajar? emang kalian pada mau gitu ikut tutor tambahan? emang kalian pada mau gitu ikut bimbingan belajar sampai malem terus paginya harus sekolah? Nggak mungkin kan.
Kalian sekolah dengan have fun. Nggak ada tanggung jawab sama sekali. Okelah mungkin ujian nasional itu jadi beban bagi kalian. Jadi momok yang menyeramkan. Tapi menurut saya, let it flow aja lah gitu. Toh UN juga udah ada SKL nya. Jadi, kalian bisa belajar sesuai SKL itu. Nggak usah ngapalin 1 buku paket lah. Yang penting kalian tahu konsepnya. Terus banyakin latian soal- soalnya.
Terus ada juga yang mempermasalahkan sekolah 3 tahun hanya ditentukan 4 hari. Hey, That's not true. Sekolah juga turut andil kok dalam kelulusan siswa. 40% dari nilai ujian sekolah, nilai rapor semester 1-5, ujian praktek, dll. Sedangkan 60% nya dari hasil UN. Jadi, kalau semisal kita cuma bisa ngerjain sepuluh nomer dan itu bener semua. Kita udah lulus.
So, menurut saya UN itu juga dibutuhkan oleh siswa. UN jangan dihapuslah. Cuma benerin aja manajemen dari Kemendikbudnya. Jangan kayak kemarin lah. Kasian mental siswa.

Sabtu, 16 Maret 2013

Titrasi Asam Basa


1.      Tujuan             : menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan cara mengukur volumnya, yang diperlukan untuk bereaksi dengan larutan HCl yang tertentu volum dan konsentrasinya
2.      Alat dan bahan            :
No
Alat dan bahan
Jumlah
1.
Rak dan tabung reaksi
5 buah
2.
Pipet tetes
1 buah
3.
Gelas kimia
2 buah
4.
Silinder Ukur
25 mL
5.
Larutan asam klorida 0,1 M
-
6.
Larutan natrium hidroksida
-
7.
Indikator fenolftalein
1 buah
8.
Buret
1 buah
3.   Dasar teori                   :
Titrasi asam basa merupakan analisis kuantitatif untuk menentukan molaritas larutan asam atau basa. Zat yang akan ditentukan molaritasnya dititrasi oleh larutan yang molaritasnya diketahui (larutan baku atau larutan standar) dengan tepat dan disertai penambahan indikator. Fungsi indikator di sini untuk mengetahui titik akhir titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan berubah warnanya pada titik akhir titrasi. Titrasi asam basa merupakan metode penentuan molaritas asam dengan zat penitrasi larutan basa atau penentuan molaritas larutan basa dengan zat penitrasi larutan asam. Titik akhir titrasi (pada saat indikator berubah warna) diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan
asam tepat bereaksi dengan larutan basa.
4.   Cara kerja                    :
a.                      Masukkan 25 tetes larutan HCl 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 1 mL air dan 1- 2 tetes indikator fenolftalein. Kemudian, tambahkan larutan NaOH tetes demi tetes ke dalam buret dan guncangkan tabung reaksi. Hentikan penetesan larutan NaOH bila larutan di dalam tabung reaksi menjadi merah muda dan warna itu tidak menghilang bila tabung reaksi diguncangkan.
b.                     Ulangi percobaan ini 3 kali.
5. Hasil pengamatan          :
a.       Konsentrasi HCl         : 0,1 M
b.      Jumlah tets NaOH      :
Nomor Tabung
Jumlah tetes larutan
NaOH
HCl
1
5 ml (2,7 ml)
23 tetes
2
5 ml (2,3 ml)
24 tetes
3
5 ml (2,2 ml)
24 tetes
Hitungan:
            HCl(aq ) + NaOH(aq) -> NaCl(aq) + H2O(l)
Nomor Tabung
Volum larutan (mL)
Jumlah mol
NaOH
HCl
HCl
NaOH
1
5 ml (2,7 ml)
23 ml
1,242 mol
1,242 mol
2
5 ml (2,3 ml)
24 ml
1,104 mol
1,104 mol
3
5 ml (2,2 ml)
24 ml
1,056 mol
1,056 mol
a.       Jika volum 1 tetes= vmL, maka

b.      Konsentrasi larutan NaOH menurut:
·      Titrasi ke 1: 1,242 mol
·      Titrasi ke 2: 1,104 mol
·      Titrasi ke 3: 1,056 mol
c.       Konsentrasi larutan NaOH rata- rata:
V. M. koef      = V. M. koef
5.  M. 1            = 23,67. 0,1. 1
            M         = 0,4734
n.         =          M. V
            =          0,4734. 2,4
            =          1,13616
            =          1,14 mol
d.      - Titik akhir titrasi: keadaan dimana jumlah mol ekivalen antara zat yang dititrasi dan penitrasi sama dan ditunjukkan dengan perubahan warna indikator asam basa. Keadaan ini ditujukan pada saat  warna indikator berubah
-Titik ekuivalen: kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa.
6.   Kesimpulan                 :
Berdasarkan percobaan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa titrasi asam basa merupakan analisis kuantitatif untuk menentukan molaritas larutan asam atau basa. Zat yang akan ditentukan molaritasnya dititrasi oleh larutan yang molaritasnya diketahui (larutan baku atau larutan standar) dengan tepat dan disertai penambahan indikator. Fungsi indikator di sini untuk mengetahui titik akhir titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan berubah warnanya pada titik akhir titrasi.
7. Tugas:
1.      Hitunglah volum larutan H2SO4 0,05 M yang diperlukan untuk menetralkan 100 mL larutan NaOH 0,2 M menurut persamaan reaksi!



2.      Sebanyak 20 mL larutan asam asetat di ittrasi dengan larutan NaOH 0,1 M dengan menggunakan indikator fenolftalein menurut persamaan reaksi
CH3COOH (aq) + NaOH (aq) -> Na+(aq) + CH3COOH(aq) + H2O (l)
Perubahan warna menjadi merah muda terjadi pada saat penambahan 5 mL larutan NaOH. Hitunglah molaritas larutan asam asetat!




3.      Larutan asam cuka yang blum diketahui kadarnya di titrasi dengan larutan NaOH. Jika sebanyak 5 mL larutan asam cuka memerlukan 40 mL larutan NaOH 0,1 M, Hitunglah molaritas asam cuka, dan kadar asam cuka!